Sabtu, 24 Januari 2015

Hentikan Pacaranmu Saudara/i-ku, Kami Menyayangimu


Sepanjang jalan hidup saya, seringkali mata ini tertuju pada mereka yang berani memperlihatkan kemesraannya ataupun perbuatan khalwat (berduaan)-nya dengan lawan jenis. Apakah tidak boleh? Boleh, asalkan lawan jenismu itu adalah pria/wanita yang telah engkau nikahi secara sah syariat islam.

Tentu sahabat bisa menerka bagaimana memanggil perbuatan yang menggangu mata ini. Tidak ada yang tidak tahu, langsung saja kita panggil dia "Pacaran"
Tulisan ini adalah untuk saudara-saudari Muslim saya, mereka yang saya dahulukan, mereka yang saya pedulikan, mereka yang saya doakan.

Manusia, adalah makhluk terbaik ciptaan Allaah. Lebih unggul dari malaikat, jin, dan iblis.
Karena Allaah menciptakan kita dengan sesempurnanya, hingga tiada sedikitpun yang ada pada diri manusia itu tidaklah bermanfaat. Termasuk, akal pikiran.

Manusia punya kemampuan berpikir yang luar biasa, tiada hentinya hingga ajal menjemput dan terus berkembang. Akan tetapi banyak dari saudara-saudari Muslim yang belum menggunakan sepenuhnya kemampuan tersebut. Contoh saja, saudara-saudari Muslim yang berpacaran dari kalangan manapun.

Sedari kecil, kita telah memeluk Islam. Suatu karunia besar yang patut disyukuri karena ratusan juta orang diluar sana yang tidak dianugrahi keislaman untuk mereka, dikarenakan mereka memeluk agama lain yang dianut orangtua mereka.

Bentuk kesyukuran itu harusnya kita tunjukkan sebagai Muslim yang beriman pada Allaah dan RasulNya dengan memahami, dan mengamalkan segala petunjuk dari Allaah. Yang mana petunjuk itu ada pada Al-Quran dan Sunnah Rasul (Hadits). Tapi apa yang terjadi? Saudara-saudari Muslim saya lebih memilih keingkaran daripada syukur yang harusnya dilakukan.

Salah satunya adalah perbuatan pacaran. Ini adalah salah satu bentuk keingkaran. 
Kenapa saya sebut keingkaran? Hal ini mengacu pada Al-Quran dan Sunnah, bahwasanya kewajiban seorang muslim adalah tidak mendekati zina! Bagaimana pacaran bisa dikatakan mendekati zina? 

Ketika lelaki dan perempuan sudah dalam keadaan berduaan dimana mereka memiliki perasaan yang sama, maka saat itulah berbagai syahwat akan muncul. Ini adalah fitrahnya manusia untuk memiliki syahwat. Namun syahwat ini hanya bisa dilampiaskan kepada yang halal.
Jika dua insan berpacaran, maka satu per satu langkah-langkah menuju syahwat tersebut akan berdatangan. Hingga, tidak jarang manusia melakukan zina untuk memenuhi syahwatnya tersebut.
Sebab itulah dalam Al-Quran dikatakan jangan kau dekati zina. Ini adalah petunjuk yang nyata tak perlu dipertanyakan lagi dan harus dilakukan seorang Muslim.

Bukankah kita selalu memegang slogan "Sedia payung sebelum hujan" atau "Mencegah lebih baik daripada mengobati". Sama halnya dengan masalah pacaran ini, lebih baik kita tidak melakukan pacaran karena nanti akan berakibat fatal. Siapakah manusia di dunia ini yang tidak menginginkan sesuatu yang lebih baik? Adakah orang, yang ketika diberi nikmat untuk kebaikan kemudian ia menolaknya?

Tidak berpacaran adalah sebuah nikmat, sebuah tanda kasih sayang Allaah pada makhluknya agar kita tidak menjadi rugi. Sedangkan bagi Allaah tidak ada untung dan tidak ada ruginya bila kita melakukan perbuatan terlarang. Namun Allaah memberikan resep gratis melalui petunjuk Al-Quran tanpa bayaran apapun agar kita tidak memiliki penyakit itu.
Nikmat Tuhan manakah yang kau dustakan!

Bila seseorang melakukan pacaran, maka ia telah melanggar ketentuan wajib Islam. Apa saja ketentuan wajib tersebut : 1. Dia mengingkari ayat Al-Quran tentang mendekati zina 2. Dia tidak melaksanakan sunnah Rasul yang wajib untuk Muslim lakukan, yakni menjaga pandangan dan tidak berdua-duan dengan yang bukan mahram.

Disebut apakah orang-orang yang mengingkari ayat-ayat Allaah dan perintah Rasulnya? Orang Kafir.
Karena pengertian kafir secara bahasa adalah mengingkari kebenaran.
Dan dalam Al-Quran surat An-Nisa' ayat 56 disebutkan bahwasanya :
"Sungguh, orang-orang yang kafir kepada ayat-ayat Kami, kelak akan Kami masukkan ke dalam neraka. Setiap kali kulit mereka hangus, Kami ganti dengan kulit yang lain, agar mereka merasakan azab. Sungguh, Allah Mahaperkasa, Mahabijaksana".

Dalam ayat ini, secara tegas mengatakan bahwa saudara-saudari Muslim yang berpacaran akan dimasukan ke dalam neraka. Setiap kali kulit kalian hangus, Allaah ganti dengan kulit yang lain, agar kalian merasakan azab. Tidakkah kalian takut dengan ancaman ini? Tidakkah kalian merasakan betapa besar kasih sayang dan rahmat Allaah yang ditunjukkan dengan peringatan-peringatan seperti ini? Ini semua agar saudara-saudari Muslim-ku tidak merasakan azab, tidak sengsara di akhirat nanti. 
Siapakah yang tega melihat sahabat karibnya yang semasa di dunia sudah saling membantu, saling berucap cinta dan sayang, namun saat hari penentuan masuk ke dalam api neraka Jahannam.

Wahai sahabatku, renungilah bersama. Saya tidaklah sempurna, saya juga masih memiliki banyak kesalahan dan aib. Tapi bukan berarti saya akan membiarkan kalian, teman-temanku yang punya otak cerdas dan pemikiran hebat, jatuh tak berdaya ke dalam azab sengsara. Ini karena kecintaan, rasa fitrah kasih sayang yang dianugrahkan sesama Muslim untuk menyelamatkan saudara Muslim-nya yang lain.

Jika engkau telah memahami ucapan hati ini, bersegaralah taubat. Sesungguhnya Tuhan kita, Allaah, Maha Pengampun dan Maha Pemaaf. Hanya pada-Nya kita bisa minta ampun atas kesalahan dan dosa yang dilakukan. Dan hanya kepada Dia-lah yang berhak kita ucapkan syukur atas nikmat-Nya.
Sungguh, saya hanya mengungkapkan cinta pada saudara-saudari Muslim. Tidaklah saya bisa mengubah hati kalian untuk menerima tulisan ini. Hanya Allaah yang berhak memberikan hidayah-Nya dan mengubah hati orang-orang yang Dia pilih untuk kembali pada jalan yang benar.
Dan saya, hanya bisa berdoa, meminta kepada Sang Pemberi untuk memberikan hidayah itu untukmu saudara-saudariku. Semoga Allah menjadikan kalian orang-orang yang beruntung kembali pada jalan yang benar. Aamiin ya Rabbal 'alaamiin.

Wallahua'alam 




Rabu, 07 Januari 2015

"Nilai A+ mah lewaat"



Alhamdulillaah
Semester 5 selesai, UAS telah dijalani..
Namun hasilnya apa? Apakah nilai dari semester 5 ini?

Tidak, dari kecil semenjak kita memasuki bangku pendidikan. Orangtua, guru, teman-teman berhasil menanamkan bibit bahwa nilai adalah segalanya. Kamu berhasil dalam pembelajaran maka nilai kamu harus bagus. Itulah mind-set yang ditanamkan pada kita selama ini.
Akan tetapi, Allah memberikan manusia akal pikiran yang akan terus berkembang. Kini, sebagai seorang mahasiswa harusnya kita berpikir lebih matang dan tidak menelan mind-set itu seumur hidup.

Mind-set baru kita dan harus radikal adalah : Lakukan tugasmu dengan sungguh-sungguh, bila telah selesai lakukan tugas yang selanjutnya.
Artinya apa? Hasil yang diberikan manusia hanyalah penunjang/ fasilitas untuk membantu kita melakukan tugas berikutnya. Hasil yang sebenar-benar hasil tugas kita adalah yang ditunjukkan oleh Allaah. Kita tidak tau pasti bagaimana Allaah menunjukkan hasilnya, tentunya tidak dengan memberikan raport, kertas hasil ulangan, kartu hasil studi (KHS), atau bisa cek nilai secara online. Namun, Allaah akan selalu memberikan nikmatNya sebagai hasil kerja keras kita. Dan nikmat Allaah tidak akan bisa dinilai dengan hanya membayangkan mobil, uang, kekayaan, popularitas, jabatan, dan lain-lain yang berhubungan dengan materi duniawi.

Tidak sedikit dari kita yang merasa kecewa, sedih dan menyalahkan takdir ketika nilai yang diperoleh jauh dari harapan. Seringkali kita merasa bahwa sudah berbuat dengan maksimal, kita merasa bisa atas mata kuliah/ mata pelajaran tersebut, namun mengapa masih memperoleh nilai yang jelek?
Ini adalah tanda perasaan yang tidak tawakkal, tidak qanaah dengan apa yang digariskan Allaah.
Boleh jadi kamu mengira, nilai jelek itu adalah cobaan. Akan tetapi sesungguhnya, itu adalah nikmat yang Allah berikan untukmu. Agar kamu bersyukur, agar kamu mengingat kembali, agar kamu menundukkan diri, bahwa sesungguhnya yang nyata harus diharapkan bukanlah nilai namun keridhaan Allah.

Tentunya kita sebagai manusia, terutama umat muslim, sedari balita sudah diajarkan bahwa ada surga ada neraka. Dan kita harus masuk surga. Seringkali, ketika SD ditanyakan oleh guru, nanti mau masuk surga atau neraka? Dan kita menjawab surga. Acapkali, orangtua mengingatkan kita untuk shalat agar bisa masuk surga. Surga dan surga. Inilah tujuan utama manusia, melakukan pekerjaan karena akan ada hasil yang diperoleh. Namun karena nilai, harta, materi, jabatan terlihat nyata di mata, surga  kalah pamor sebagai keinginan bekerja keras. 

Namun tidak bagi orang-orang yang mengharapkan keridhaan Allaah atas kerja kerasnya, ia tidak memikirkan apa yang ia akan dapat/peroleh atas kerja kerasnya. Tapi yang ia pertanyakan adalah, sudahkah Allaah senang, ridha, dan merahmati apa yang telah ia lakukan? 
Dan perlu diingat kembali, banyak kisah yang telah diperdengarkan pada kita. Bahwa tidak sedikit orang yang beramal paling banyak, namun ia tidak bisa masuk surga karena Allah tidak ridha padanya. Dan tidak sedikit juga orang yang selama hidupnya sedikit beramal baik tapi Allah ridha dengan amalnya yang seidkit tersebut.
Ini artinya apa? Allah memasukkan orang-orang yang berkualitas ke dalam surgaNya. Bukan sekedar amalan yang berlimpah, pahala yang berlipat-lipat, namun cahaya Ridha Allaah yang memimbing mereka untuk masuk kedalam surga.

Jadi, jangan yakin bahwa nilai adalah segala-galanya, jangan terima bahwa segala-galanya bergantung pada nilai. Itu adalah pemikiran dangkal yang tidak seharusnya ada dalam benak seorang mahasiswa. Hidupmu di dunia hanyalah butiran debu, tidak ada apa-apanya dibandingkan dengan apa yang akan kamu alami nanti di akhirat. Dunia hanyalah ladang untuk bekal perjalanan akhirat nanti. 
Nilai A-, B+, C+ mu tidak akan ditanyakan saat amalanmu dihitung nanti. Tapi yang akan dihitung adalah, apa niat kamu dalam melakukan ujian itu? bagaimana usaha yang telah kamu lakukan? seberapa syukurkah kamu dengan nikmat yang Allaah berikan? bahkan, Allaah akan meminta pertanggungjawaban kita dengan pertanyaan yang tidak terduga.
Allaahummaghfirlii..

Maka dari itu teman-teman, banyak hal yang harus kita pelajari. Tidak selamanya menuntut ilmu adalah sesuatu yang berupa menguasai dan mendalami ilmu yang saat ini ada di kejuruan yang dipegang. Namun ilmu sangatlah luas, lebih luas dari luas permukaan bumi ini. Memaknai, menghayati dan mengubah perilaku kita akan hidup agar menjadi lebih baik merupakan suatu proses menuntut ilmu.

Dan ini terkhusus untuk teman-teman mahasiswa yang selalu galau, cemas, sakit perut, mual ketika membuka SINO (Sistem Informasi Nilai Online), ingatkan diri kita kembali bahwa hidup tidaklah berakhir ketika kamu mendapat B+, kenapa bukan A-. Ini hanyalah penilaian manusia atas usahamu, namun penilaian Allaah akan jauh dari perkiraanmu. Nilai A+ mah lewat..
Kata kuncinya adalah selalu berusaha yang terbaik yang bisa kamu lakukan karena Allah. Catat selalu dalam sanubari kita hadist Arba'in yang pertama tentang niat. Itu sangat perlu di garis merahkan.

Bersyukur pada Allaah, bersyukur sepanjang waktu.