Rabu, 07 Januari 2015

"Nilai A+ mah lewaat"



Alhamdulillaah
Semester 5 selesai, UAS telah dijalani..
Namun hasilnya apa? Apakah nilai dari semester 5 ini?

Tidak, dari kecil semenjak kita memasuki bangku pendidikan. Orangtua, guru, teman-teman berhasil menanamkan bibit bahwa nilai adalah segalanya. Kamu berhasil dalam pembelajaran maka nilai kamu harus bagus. Itulah mind-set yang ditanamkan pada kita selama ini.
Akan tetapi, Allah memberikan manusia akal pikiran yang akan terus berkembang. Kini, sebagai seorang mahasiswa harusnya kita berpikir lebih matang dan tidak menelan mind-set itu seumur hidup.

Mind-set baru kita dan harus radikal adalah : Lakukan tugasmu dengan sungguh-sungguh, bila telah selesai lakukan tugas yang selanjutnya.
Artinya apa? Hasil yang diberikan manusia hanyalah penunjang/ fasilitas untuk membantu kita melakukan tugas berikutnya. Hasil yang sebenar-benar hasil tugas kita adalah yang ditunjukkan oleh Allaah. Kita tidak tau pasti bagaimana Allaah menunjukkan hasilnya, tentunya tidak dengan memberikan raport, kertas hasil ulangan, kartu hasil studi (KHS), atau bisa cek nilai secara online. Namun, Allaah akan selalu memberikan nikmatNya sebagai hasil kerja keras kita. Dan nikmat Allaah tidak akan bisa dinilai dengan hanya membayangkan mobil, uang, kekayaan, popularitas, jabatan, dan lain-lain yang berhubungan dengan materi duniawi.

Tidak sedikit dari kita yang merasa kecewa, sedih dan menyalahkan takdir ketika nilai yang diperoleh jauh dari harapan. Seringkali kita merasa bahwa sudah berbuat dengan maksimal, kita merasa bisa atas mata kuliah/ mata pelajaran tersebut, namun mengapa masih memperoleh nilai yang jelek?
Ini adalah tanda perasaan yang tidak tawakkal, tidak qanaah dengan apa yang digariskan Allaah.
Boleh jadi kamu mengira, nilai jelek itu adalah cobaan. Akan tetapi sesungguhnya, itu adalah nikmat yang Allah berikan untukmu. Agar kamu bersyukur, agar kamu mengingat kembali, agar kamu menundukkan diri, bahwa sesungguhnya yang nyata harus diharapkan bukanlah nilai namun keridhaan Allah.

Tentunya kita sebagai manusia, terutama umat muslim, sedari balita sudah diajarkan bahwa ada surga ada neraka. Dan kita harus masuk surga. Seringkali, ketika SD ditanyakan oleh guru, nanti mau masuk surga atau neraka? Dan kita menjawab surga. Acapkali, orangtua mengingatkan kita untuk shalat agar bisa masuk surga. Surga dan surga. Inilah tujuan utama manusia, melakukan pekerjaan karena akan ada hasil yang diperoleh. Namun karena nilai, harta, materi, jabatan terlihat nyata di mata, surga  kalah pamor sebagai keinginan bekerja keras. 

Namun tidak bagi orang-orang yang mengharapkan keridhaan Allaah atas kerja kerasnya, ia tidak memikirkan apa yang ia akan dapat/peroleh atas kerja kerasnya. Tapi yang ia pertanyakan adalah, sudahkah Allaah senang, ridha, dan merahmati apa yang telah ia lakukan? 
Dan perlu diingat kembali, banyak kisah yang telah diperdengarkan pada kita. Bahwa tidak sedikit orang yang beramal paling banyak, namun ia tidak bisa masuk surga karena Allah tidak ridha padanya. Dan tidak sedikit juga orang yang selama hidupnya sedikit beramal baik tapi Allah ridha dengan amalnya yang seidkit tersebut.
Ini artinya apa? Allah memasukkan orang-orang yang berkualitas ke dalam surgaNya. Bukan sekedar amalan yang berlimpah, pahala yang berlipat-lipat, namun cahaya Ridha Allaah yang memimbing mereka untuk masuk kedalam surga.

Jadi, jangan yakin bahwa nilai adalah segala-galanya, jangan terima bahwa segala-galanya bergantung pada nilai. Itu adalah pemikiran dangkal yang tidak seharusnya ada dalam benak seorang mahasiswa. Hidupmu di dunia hanyalah butiran debu, tidak ada apa-apanya dibandingkan dengan apa yang akan kamu alami nanti di akhirat. Dunia hanyalah ladang untuk bekal perjalanan akhirat nanti. 
Nilai A-, B+, C+ mu tidak akan ditanyakan saat amalanmu dihitung nanti. Tapi yang akan dihitung adalah, apa niat kamu dalam melakukan ujian itu? bagaimana usaha yang telah kamu lakukan? seberapa syukurkah kamu dengan nikmat yang Allaah berikan? bahkan, Allaah akan meminta pertanggungjawaban kita dengan pertanyaan yang tidak terduga.
Allaahummaghfirlii..

Maka dari itu teman-teman, banyak hal yang harus kita pelajari. Tidak selamanya menuntut ilmu adalah sesuatu yang berupa menguasai dan mendalami ilmu yang saat ini ada di kejuruan yang dipegang. Namun ilmu sangatlah luas, lebih luas dari luas permukaan bumi ini. Memaknai, menghayati dan mengubah perilaku kita akan hidup agar menjadi lebih baik merupakan suatu proses menuntut ilmu.

Dan ini terkhusus untuk teman-teman mahasiswa yang selalu galau, cemas, sakit perut, mual ketika membuka SINO (Sistem Informasi Nilai Online), ingatkan diri kita kembali bahwa hidup tidaklah berakhir ketika kamu mendapat B+, kenapa bukan A-. Ini hanyalah penilaian manusia atas usahamu, namun penilaian Allaah akan jauh dari perkiraanmu. Nilai A+ mah lewat..
Kata kuncinya adalah selalu berusaha yang terbaik yang bisa kamu lakukan karena Allah. Catat selalu dalam sanubari kita hadist Arba'in yang pertama tentang niat. Itu sangat perlu di garis merahkan.

Bersyukur pada Allaah, bersyukur sepanjang waktu. 





Tidak ada komentar:

Posting Komentar