Sabtu, 14 Maret 2015

Ta'aruf Bukan Modus Pacaran

Sabtu Malam, 23 Jumadil Awal 1436 H alias 14 Maret 2015, Rahma ikut kajian M2M di Daruut Tauhiid. Temanya hehe :v. Monggo dibaca resume-nya, mumpung masih anget langsung Rahma salin :) Semoga bermanfaat, ada beberapa yang merupakan kata-kata Rahma, tapi kebanyakan ini adalah yang disampaikan Ustadznya.
Loh, kok bunga gambarnya sih Ma? Soalnya aku suka bunga, jadi maunya gambar bunga. Gak nyambung ya? hahaha


TA’ARUF BUKAN MODUS PACARAN


Ta’aruf adalah kata yang berasal dari bahasa Arab, artinya berkenalan.
Sejarah ta’aruf sendiri adanya dari tahun 1980-an, dimana masa itu para aktivis kampus melakukan kegiatannya selalu menggunakan hijab antara laki-laki dan perempuan. Kalau ingin berbicara maka dilakukan dari balik tembok, jadi mereka hanya kenal suara dan nama tapi tidak tau wajah.

Sehingga ketika mereka (laki-laki aktivis) menyatakan bahwa ingin menikahi seorang aktivis perempuan yang ia sukai tapi hanya tau suara dan nama, tidak tau wajah, diberikanlah solusi untuk diperkenalkan (inilah ta’aruf). Namun cara ta’arufnya sangatlah sederhana, yakni diberikan foto si akhwat untuk sekedar tau wajah. Karena Rasulullah-pun membolehkan sebelum menikah untuk tau wajah calon pendamping dulu. Perkenalan lebih lanjut dapat dilakukan dengan menggunakan alternatif MC alias Mak Comblang, untuk lebih mengetahui akhlak, ibadah keseharian, karakter, dan lain-lain. Kemudian barulah dilanjut dengan pengajuan lamaran pada wali akhwat, bila akhwat setuju maka lamaran laki-laki diterima, kemudian dilangsungkan-lah pernikahan.

Inillah yang dinamakan proses ta’aruf, yang hadir sebagai solusi sebelum menikah tapi masih pada jalan yang benar. Proses ta’aruf yang baik adalah proses dimana didalamnya akan selalu dapat berujung pada ketaqwaan kepada Allah SWT. Bila ta’aruf, perkenalan antara laki-laki dan perempuan ini malah menjauhkan diri pada Allah, maka hindari.
Ibnu Qayyum (maaf kalau salah, soalnya ini sayup-sayup mendengar perkataan Ustadznya, yang penting mah ilmunya ^^) berkata bahwasanya pintu dari hubungan seksual adalah berkenalan. Yang mana dalam Islam kita mengenalnya dengan zina, jika hubungan yang tidak halal. Allah-pun telah mencegah kita dari perbuatan mendekati zina ini dalam surat Al-Isra’. Artinya, jangan asal ceplas ceplos kenal, chatting, ngobrol dengan laki-laki yang bukan mahram. Karena ini bisa menjadi pintu zina.

Iman, dianugrahkan oleh Allah pada yang Allah kehendaki. Ini artinya iman adalah kasih sayang, cinta yang ditunjukkan Allah pada muslim. Allah menganugrahkan seluruh manusia karunia berupa rezeki, kesehatan, jabatan, dll dsb bahkan pada orang kafir sekalipun. Tapi tidak dengan iman, karena iman hanya diberikan pada yang Allah kehendaki.
Seringkali orang-orang mengatakan bahwa “wajar bila iman itu turun”. Sungguh ini adalah statement yang tidak benar, karena hakikatnya naiknya iman seseorang adalah karena perbuatan baik dan ibadah, turunnya iman seseorang adalah karena perbuatan maksiat. Jadi, wajarkah bila kita berbuat maksiat? Tentu tidak!

Inilah permasalahannya, susahnya diri untuk menjaga iman. Seperti yang telah disebutkan tadi bahwa iman adalah bentuk cinta yang harus kita iringi dengan ketaatan. Disinilah kuncinya, ta’aruf harus selalu diikatkan dengan iman. Selalu menjaga ketaatan pada Allah, maksudnya melakukan apapun yang Allah sukai dan menghindari yang Allah tidak sukai. Dalam artian singkat, mencintai segala sesuatu karena Allah.

Nah, buah dari ta’aruf yang dilandasi dengan iman adalah menerima segala solusi atau keputusan yang Allah tetapkan dengan lapang dada. Mau ditolak, diterima, gak sesuai ekspektasi, dll dsb tetap akan diterima dengan lapang dada. Karena dari awal sudah melandasi ta’aruf dengan keimanan pada Allah. Rasa cinta pada Allah-pun akan semakin kuat.

Fenomena yang sering terjadi sekarang adalah proses pendekatan (ta’aruf atau PDKT bahasa alaynya mah) antara laki-laki dan wanita yang dilakukan kemudian berujung pada pacaran. Inilah penyelewangan yang berkembang. Berawal dari kenal, ngobrol, bercanda, curhat kemudian tang ting tung teng tong ubah status di Facebook “in relationship with .....”. Inilah yang salah, namun masih banyak yang awam akan ilmu agama sehingga tidak mengetahui hakikat ta’aruf yang sebenarnya. Padahal Allah menyebutkan dalam Al-Quran yang terjemahannya ”Dan janganlah kamu mengikuti sesuatu yang tidak kamu ketahui. Karena pendengaran, penglihatan, dan hati nurani, semua itu akan diminta pertanggungjawabannya.” (Al-Isra’ ayat 36)

Buat akhwat nih, yang sering banget ke-geer an (gede kepala, eh gede rasa mksdnya :v), selalu jaga hatinya, jaga imannya, tingkatkan ketaqwaan pada Allah, da jodoh gak kan kemana. Yang penting sing sabar, belajar ilmu agamanya diperbanyak. Kebanyakan akhwat sekarang, kalau mimpiin si ikhwan di tidurnya, pagi-paginya langsung geer  kalau si ikhwan adalah jodohnya (ampuun, ini bener banget tad *loh -_-). Astagfrirullah, aduh ini mesti kudu harus hati-hati jaga perasaan ya akhwat, jangan mudah terhasut rayuan setan. Apalagi kalau di cie-cie in sama temen, “kamu suka kan sama ikhwan ini? Cieee...”. Nah, ini ujian sabar nih. Harus strong buat ngelewatinnya. Semangaat wat ^^ (bukan wawat, tapi semua akhwat :v, maaf kalau ada yang namanya wawat hehe)

So, simpulannya kalau mau ta’arufan pake cara yang syar’i, yang diajarin sama Rasulullah. Landasi ta’aruf dengan keimanan, maka untuk mengarungi bahtera rumah tangga akan senantiasa pula dilandasi pada ketaqwaan. Tips alternatif kalau mau ta’arufan pake mak comblang, jangan langsung ke calonnya. Satu lagi, yang sekarang lagi pacaran, cepet Putusin! Daripada diputusin, ntar malah muncul “Sakitnya tuh Disini”.

Ada banyak pertanyaan pas sesi diskusi dengan Ustadznya, banyak pertanyaan lucu-lucu (yaah namanya juga akhwat, jadi imut-imut gitu deh *apasihMaaa). Rahma cuma rangkum beberapa, karena saking banyaknya. Cekidot!

1. Bagaimana cara untuk mengetahui bahwa kita sudah siap untuk menikah?
Jawab : Bayangkan, kamu dihadapkan pada sebuah barbel. Kamu bisa mengangkat barbel yang beratnya 15kg (widih, nih akhwat keturunan samson kali yaak :v). Tapi kamu menemukan barbel yang disana dituliskan beratnya 100kg, pasti kamu berpikir gak akan sanggup ngangkatnya kan? Karena ada tulisan 100kg, sedangkan kamu bisanya ngangkat 15kg. Terus dateng seorang anak kecil pake kerudung umur 10 tahun, tiba-tiba dia angkat tuh barbel yang ada tulisan 100kg tadi. Eh dia bisa ngangkatnya, ditelisik ternyata itu bukan barbel besi, tapi sterofoam (gabus) yang dicat warna item sedemikian rupa hingga bentuknya kayak barbel asli dan dikasih tulisan 100kg. Nah, gimana kita bisa tau kalau kita bisa ngangkat itu barbel?
Caranya adalah mencoba. Jika kamu pengen tau apakah kamu udah siap atau belum buat nikah, maka Nikahlah! (waduh, ini solusinyaa >.<)

2. Setiap manusia sudah ditetapkan jodohnya oleh Allah, bagaimana cara untuk mengetahui bahwa dia adalah jodoh yang sudah ditetapkan Allah di Lauh Mahfudz?
Jawab : Nikah! (itu aja jawab ustadznya :D, tapi pertanyaan ini juga pernah Rahma denger di radio, jadi Rahma coba share juga ya mengenai pertanyaan ini).
Mati, Rezeki, dan Jodoh adalah ketetapan yang hanya Allah tau. Tidak jarang kita melihat orang-orang kawin cerai, nikah lagi dll dsb. Lalu yang manakah jodohnya? Apakah suami/istri yang pertama bukan jodohnya? Wallahu’alam. Hanya Allah yang tau. Ada juga yang betah dan memiliki hubungan harmonis sampai meninggal, apakah mereka jodoh? Bisa iya bisa tidak :). Solusinya, yang bisa dilakukan adalah meyakini bahwa pendamping hidup saat ini, yang dimiliki, ialah jodoh kita. Cukup dengan itu. Karena bukan masalah jodoh atau bukan, tapi bagaimana kita menjadikan hubungan suami istri (rumah tangga) sebagai fasilitas untuk terus mendekatkan diri pada Allah SWT. Sering dalam perkawinan diawali dengan rasa yang biasa-biasa saja, tidak ada cinta. Namun Allah akan menghadirkan cinta antara suami dan istri seiring berjalannya waktu dalam rumah tangga tersebut. Lebih baik mencintai orang yang dinikahi daripada menikahi orang yang dicintai.

3. Pertanyaan yang ketiga ini panjang banget, intinya mah gini kata penanya-nya “Gimana kita menghadapi rasa suka karena ilmu yang seseorang miliki?”
Jawab : Allah memahami fitrah hatinya manusia, karena Allah sayang dengan ciptaannya. Boleh menyukai seseorang karena ilmunya, karena bisa meningkatkan motivasi untuk terus belajar. Tapi janganlah menyukainya karena syahwat. Dan jaga suka itu dalam diam, tak usah diumbar. (Wah pelajaran banget nih wat)

Sekian, hanya itu yang bisa Rahma sampaikan. Bila ada khilaf dan salah dari tulisan ini Rahma memohon ampun pada Allah. Wallahua’alam bishshawwab.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar