Karena tadi ikut seminar tentang menulis, jadi ada semangat lagi buat nulis (selain nulis SKRIPSI).
Jadi, cerita Rahma kali ini adalah tentang siswa dan problematikanya.
Bagi yang tidak berprofesi sebagai guru, mungkin menganggap profesi guru adalah sesuatu yang cemen (tidak membutuhkan keahlian khusus, karena sesungguhnya semua orang bisa jadi guru, ya guru abal-abal). Tapi tidak semua orang bisa menjadi guru profesional, guru yang memberikan inspirasi pada siswanya, guru yang bisa membuat siswanya merasa dilindungi.
Termasuk Rahma yang saat ini sedang belajar bagaimana mencapai kompetensi profesional tersebut.
Meskipun saat ini Rahma tidak lagi dalam masa PPL (Pelatihan Profesi Lapangan), namun Rahma tetap datang ke sekolah karena keperluan penelitian dan membantu Ibu Pamong.
Tentunya bertemu kembali dengan anak-anak yang unyu-unyu dan imut >.<
Awalnya tidak menyangka mereka akan menyambut dengan antusias kembalinya Rahma ke sekolah, berasa jadi artis :) (yang ini lebay).
Banyak cerita yang mereka ungkapkan, Rahma seperti tidak lagi menjadi guru pelajaran matematika saja tapi juga menjadi teman mereka. Kami melakukan curhat, saling mendengarkan dan bercanda. Karena mereka adalah siswa kelas 7 jadi interaksi yang terjadi seperti antara kakak dan adik. Akan beda ceritanya jika interaksi dengan kelas 9, apalagi siswa laki-lakinya, seperti jaga jarak (hmmm :3)
Tapi, ketika ada suatu masalah yang terjadi pada mereka dan mereka mencurhatkannya pada Rahma, jujur Rahma kebingungan untuk memberikan saran. Khawatir saran tersebut aneh, dan gak bisa membantu. Sepertinya harus banyak membaca buku psikologi anak dari sekarang.
Alih-alih belajar mendengarkan masalah anak-anak, serta melatih diri dalam menghadapi problematika diri anak. Semoga dimudahkan aamiin.
Rahma pernah mengalami suatu kejadian sewaktu SMP yang sampai sekarang masih membuat Rahma sedih, yakni kesalah pahaman antara Rahma dan guru kesayangan Rahma.
Jadi, ceritanya waktu itu adalah momen 17 Agustusan. Banyak siswa dan guru yang ikut lomba di kecamatan, jadilah sekolah dan kelas sepi. Tapi masih ada sebagian guru dan siswa yang tetap di sekolah. Kelas Rahma waktu itu ada pelajaran dengan Ibu guru tersebut. Awalnya ibu guru bilang pelajaran beliau jadi jam kosong saja, boleh melakukan kegiatan bebas. Tapi tiba-tiba ibunya masuk kelas dan memulai pelajaran, entah karena apa.
Saat itu Rahma sedang tidak ingin belajar, sehingga ketika ibunya menerangkan Rahma malah menelungkupkan kepala di meja tidak memperhatikan pelajaran. Ibunya menegur Rahma, dan menyuruh Rahma keluar.
Saat itu Rahma merasakan sakit yang campur aduk dengan sedih. Rahma paling gak tahan kalau dimarahi oleh orang yang Rahma sayangi. Seakan-akan Rahma akan dibenci selamanya, apalagi Ibunya memarahi Rahma di depan semua anak kelas.
Jadilah sejak hari itu Rahma memiliki jarak dengan ibu tersebut, bahkan Rahma sudah meminta maaf tetap saja Ibunya tidak pernah seperti dulu lagi. Itu adalah luka yang sampai saat ini belum bisa Rahma sembuhkan dan Rahma tidak mau jika ada siswa yang mengalami hal tersebut.
Sekarang, Rahma masih berpikir bahwa anak/siswa bukan untuk dijauhi meskipun dia seorang penjahat sekalipun. Walaupun kenyataannya sangatlah sulit untuk bisa mendekati siswa yang dalam tanda kutip "luar biasa berbeda dari temannya". Butuh momen dan kata-kata yang tepat agar mereka bisa mendengar nurani seorang guru.
Jadi, kesimpulannya menjadi guru itu tidaklah mudah, namun bukan berarti tidak mungkin.
Cerita lain yang ingin Rahma sampaikan lagi adalah mencoba untuk ikhlas karena Allah ternyata sulit dari yang dibayangkan. Selama ini Rahma berusaha melakukan apa yang dimintakan orang lain pada Rahma, berusaha membantu, namun ada saatnya ketika Rahma bermenung sendirian, Rahma merasa seperti dipermainkan alias jadi kacung. Ibu Rahma dulu juga sudah pernah bilang pada Rahma kalau Rahma orang yang termasuk mau saja dipermainkan, disuruh-suruh tanpa tau kalau sebenarnya Rahma dimanfaatkan. Ayah juga pernah memberi nasihat kalau Rahma jangan mau-mau saja jika diminta tolong orang lain, berpikirlah dulu untuk beberapa kali sebelum membantu. Tapi kenyataannya susah untuk melakukan nasihat ayah itu. Kata ayah juga, Rahma termasuk polos dan mudah sekali ditipu. Begitulah, sekarang Rahma baru merasakan kalau Rahma akan dibuang jika sudah tidak dibutuhkan.
Tapi, ada satu poin yang Rahma tanamkan bahwa ada Allah melihat semuanya. Rahma hanya ingin melihat nanti di akhirat bahwa jika Rahma meringankan beban orang lain maka Allah akan meringankan beban Rahma juga di akhirat.
Udahan ah, segitu dulu cerita kali ini nanti disambung lagi :3
