Jumat, 31 Oktober 2014

99 Cahaya Langit di Eropa dan Bulan Terbelah di Langit Amerika

Gomen, Maaf, Mian, Sorry, Afwan, Punten :D

Baru sempat buka blog lagi, padahal udah hampir seminggu dari janji Rahma buat share cerita tentang Bedah Buku BTLA (Bulan Terbelah di Langit Amerika).
Sebelumnya, Rahma pernah posting note di FB tentang ulasan buku 99 Cahaya Di Langit Eropa. Buku yang bombastis di 10 tahun terakhir ini :) Sejak baca buku itu, Rahma jadi jatuh cinta dengan tulisan dari penulisnya. Termasuk dengan BTLA.

Rahma ikutan Bedah Buku ini bareng sama Nida. Makasih ya Nid, hobi yang sama membuat kita berjuang bersama untuk mengikuti kegiatan ini. Semoga ada nilai dan pahala yang bisa kita dapat :) Aamiin.

Rahma bisa ikutan acara ini, karena waktu itu awalnya ngikut kajian Islam di Rabbani diajakin Nida. Ada berbagai doorprize ternyata. Salah satunya 2 tiket gratis ikutan bedah buku BTLA. Rahma alhamdulillaah dapet ;) Maunya Nida juga dapet sih, soalnya kesempatan buat Nida waktu itu juga gede. Sayang takdir mengatakan bukan sepertinya :(

Tapi pas pulang, Nida mau beli tiketnya. Wuaaa senengnya ada temen :D
Trus kita juga bisa minta tanda tangannya Mas Rangga dan Mabk Hanum. Bahagianyaaaaa >.<
Udah ada 3 buku yang langsung di tandatangani sama penulisnya, dari Kak Azhar, Mas Gunadi, dan Mas Rangga Mbak Hanum (lope lope laah pokonya)
Rahma jadi inget, waktu itu kepo twitternya BTLA. Ada event bagi-bagi 10 buku BTLA secara gratis beserta tandatangan penulisnya. Udah ikutan tuh, di twitter maupun di FB. Tapi ya namanya bukan rezeki.. Alhamddulillah sekarang beneran dapet tandatangannya plus ketemu orangnya langsung (ini lagi bahagia pas nulisnya, maaf kalau alay hee)

Cover Depan Buku 99 Cahaya Langit di Eropa dan Bulan Terbelah di Langit Amerika
Di buku 99 Cahaya Langit di Eropa, membahas tentang peradaban Islam yang terkubur indah di Eropa. Kalau BTLA, diawali dengan kisah tragis yang terjadi pada tahun 2001, 11 September.
Rahma nggak akan bahas isi bukunya secara mendetail, biar teman-teman juga ikutan baca. Harus malah, nggak perlu beli. Pinjem aja, sini Rahma pinjemin. Goceng per jam hahhaa.. (becanda :p)

Kita semua tau, semenjak peristiwa tabrakan pesawat pada gedung WTC New York itu Islam mengalami perubahan pandangan di mata manusia dunia. Islam dianggap sebagai agama yang anarkis dan penganutnya adalah teroris. Ternyata, ada hal-hal yang tak disangka akan terjadi selain hal tersebut. Bagaimana pendangan yang sebenarnya dari pihak korban? Bagaimana kronologi sebenarnya? Apakah yang terjadi setelah peristiwa itu di Amerika? Apa saja kejanggalan yang ada pada kejadian tersebut? Banyak sekali pertanyaan yang harusnya kita lontarkan dengan adanya kejadian tersebut. Tapi, umumnya hanya segelintir otak yang mengajukan pertanyaan tersebut. 

Mbak Hanum dan Mas Rangga (suaminya) diberikan kesempatan oleh Allaah untuk menelusuri itu semua. Mereka dengan senang hati menggunakan bekal kekritisan akal dan rasa ingin tahu yang besar untuk mencari jawaban akan pertanyaan tersebut. Banyak hal yang akan membuat kita selalu menyebut dan memuji-Nya. Banyak sekali..

Beberapa hal yang tersebut adalah : ada kota yang bernama Mecca, Alabama, Medina di USA; asal kata KUBA (menurut dugaan kedua penulis), sebuah potongan ayat Alquran di Harvard Law School, Presiden Amerika Thomas Jefferson punya Alquran di perpusatakaan pribadinya (kata Mbak Hanum, setiap halaman pada Alquran selalu diberi tanda TJ oleh beliau), dan banyak lagi.

Dari buku ini juga, kita akan tahu bagaimana pemikiran radikal beberapa orang tentang Islam serta warga non-Amerika. Bagaimana kebencian mereka dan rencana-rencana terselubung untuk menghancurkan itu semua.

Selain dari pembahasan tentang buku tersebut, pasangan suami istri ini juga menjawab beberapa pertanyaan pribadi yang menghanyutkan hati :)
Mereka seperti yang diketahui pernah tinggal selama masa S3 Mas Rangga di Austria, dan ternyata ada cerita indah dibalik itu semua. Bagaimana Mbak Hanum harus meninggalkan karirnya sebagai reporter TransTV dan memilih menjadi wanita yang hanya mengurus suami seperti memasak, mencuci, menunggui suami pulang kuliah. 
Namun buah dari kesabaran dan cinta pengabdiannya tersebut adalah sesuatu yang memberikan karunia besar lagi mulia. Lahirlah 99 Cahaya Langit di Eropa. Mereka menjadikan tujuan mereka tidak lagi sekedar hal-hal yang berbau hebat, namun menjadi agen muslim yang baik. Itu semua tergambar jelas dari dialog pemikiran keduanya dalam buku. Tidak lagi hanya sebatas membuat buku, namun menyebarkan kebaikan yang bisa mereka usahakan untuk semua umat Islam. Indah nian tujuan mereka :)

Mereka menemui banyak orang, diberikan cerita takdir yang indah. Membuat yang hadir saat itu ingin merasakan kenyamanan tersebut. Dan Rahma ingin sekali bisa menjadi agen seperti mereka. Meluruskan niat tidak sekedar memenuhi keinginan, mimpi dan harapan. Ada sesuatu yang jauh lebih berharga dari itu semua. Itulah yang akan mejadi tujuan utama Rahma :)
Bismillaah, izinkan Ya Allaah :')

O ya, pesan di akhir dari Mas Rangga adalah : "Membaca.. itulah kuncinya. Karena dengan membaca akan membuka cakrawala"


Rabu, 15 Oktober 2014

Namanya OLA

Namanya, Yenni Fardilla Sandi. Amak (panggilan Ibu di Sumatra Barat)-nya biasa memanggil dia Ola. Teman-teman dan guru di sekolah memanggilnya Dilla. Dan Rahma lebih senang dengan kata Ola sebagai panggilannya, karena bisa diplesetkan menjadi Kolak ckckck

Ola, adalah teman pertama yang Rahma temui dan dapatkan. Dulu, dari TK sampai SD Rahma tinggal di sebuah rumah dinas untuk Guru SD dan jaraknya ke SD juga sangat dekat.
Rahma bertetangga dengan Ola, baru dipertemukan hari itu pada Jumat beberapa hari sebelum masuk TK.

Ibu datang betandang ke rumah Ola dan mengajak Rahma, lalu Amak Ola dan Ibu saling cerita. Rahma dikasih Jambu Air yang manis banget :). Bahkan sampe rumah pun Rahma nggak langsung ngehabisin Jambunya pengen dipandang dulu lama-lama -_-

Berlanjut, kami berteman di TK Bustanul Athfal Ampang. Meskipun berangkat tidak bareng, tapi saat di TK kami selalu main bareng. Rebutan ayunan, rebutan puzzle, rebutan setor bacaan Iqra', rebutan ikutan lomba malah :D

Ola, anak yang pinter menggambar. Gambar yang dia bikin selalu bagus, dia juga anak yang cantik dan manis. Masih teringat, pas arak-arakan  (pawai 17 Agustusan) Rahma disuruh Ibu memakai pakaian adat minang. sedangkan Ola memakai pakaian pengantin gaun putih. Dia cantik banget :')

Berlanjut cerita, kami masuk SD dekat rumah kami. Ada 2 kelas saat itu, Rahma disuruh Ibu masuk kelas A. sedangkan Ola didaftar ternyata masuk kelas B. Awalnya kami sudah duduk berdua di kelas A. Tapi ternyata, Ola disuruh pindah oleh Bu Nila (wali kelas pertama Rahma :)). Rahma langsung nangis, nggak mau dipisah :(

Beberapa jam kemudian, Ola dipindahkan kepala sekolah ke kelas A. Dan jadilah kami, satu kelas hingga 6 tahun ke depan. Seperti biasa, kami menjalani hari-hari sebagai anak SD.
Kami saling bersaing dalam memperebutkan juara kelas, saling bercanda ketika belajar, jajan selalu bareng, sering beli makanan yang sama, pulang sekolah langsung ngerjain PR bareng (kalau gak di rumah Ola, di rumah Rahma). Kami juga sempat dekat dengan beberapa teman yang lain, seperti Nana, Vella, Puput, Kak Dina, Susi, Ijah, Kak Il, Leli, Rian, Riki, Beby, Randi, Tata, Yogi, Fadhli, dll. Udah rada lupa hehe

Konflik sudah biasa terjadi antara kami, kalau udah ada perselisihan biasanya salah satu akan dikucilkan. Hanya untuk beberapa hari :) Setelah itu akan ada surat-suratan yang dilakukan sepulang sekolah atau pas jam istirahat. Biasanya di belakang sekolah :D

Rahma pernah beberapa kali dikucilkan, bahkan sampe rumah gak berhenti nangis :(
Benar-benar kenangan yang gak terlupakan hahaha

Ya begitulah kami, hingga kelas 3 SD masih dekat. Sampai kelas 4, kami dipisahkan tempat duduknya. Jadinya jarang belajar bareng, main bareng lagi. Prestasi kami pun menurun seiring terpisahnya kami. Bahkan bisa dikatakan hingga kelas 6 pun kami tetap tidak sedekat dulu. 

Kami akhirnya lulus tahun 2006, dengan watak berbeda dari yang kami genggam ketika masuk SD. Hanya diri masing-masing yang tau isi hati.

Namun, siapa sangka. Kami masuk ke SMP yang sama lagi. Tapi tetap saja, kami masih terpisah oleh jarak yang dibuat sedari SD.
Hingga akhirnya ketika kelas 8, Rahma ditakdirkan Allaah untuk satu kelas lagi dengan Ola. Kelas 8C. Kami menjadi dekat lagi sejak saat itu. Tapi kembali lagi kelas 9 kami dipisah, Rahma masuk kelas 9A sedangkan Ola kelas 9C.

SMA, Rahma atas saran dari teman Ibu disuruh masuk SMAN Agam Cendekia sedangkan Ola masuk SMAN 1 Kamang Magek. Sejak saat itu, kami sudah tidak pernah bertemu lagi. Hanya sesekali berhubungan lewat SMS.

Sekarang, Rahma sudah memasuki tingkat 3 kuliah dan berkepala 2. Ola apa kabar disana? Sekarang sedang apa? Rahma yakin dia semakin cantik, tapi kayaknya masih kurus kayak dulu :p

Ini cerita tentang salah seorang teman Rahma, teman pertama dan nggak mungkin Rahma lupa :) Cantik, pintar, bakat gambar, baik :)

Kalau teman-teman, siapakah teman pertamanya? Jangan dilupakan ya, seenggaknya inget nama. Semoga mereka sehat selalu disana dimanapun mereka berada. Serta sukses selalu untuk kehidupan dunia akhirat mereka <3
Aamiin