Assalamu'alaikum wr.wb
Apa kabar guys? Rahma alhamdulillah baik-baik aja, semoga chingudeul (teman-teman) semua juga dalam keadaan baik.
Kali ini Rahma akan cerita tentang kejadian yang Rahma alami hari ini, tepatnya saat bimbingan skripsi dengan dosen. Rahma gak perlu sebutkan lah ya nama beliau, yang penting ilmunya aja (ting ting ting ;)).
Jadi, ceritanya Rahma bimbingan tentang lesson design yang akan Rahma pake nanti pas penelitian. Wah, banyaaak banget koreksi dari beliau buat Rahma, terutama bagian susunan kalimat hahaha..
Ya, beliau memaklumi kalau orang seberang (alias orang luar pulau jawa yang kemelayu-melayuan) cara bahasanya memang sedikit berbeda. Suka dibalik kata-katanya. Contoh : sangat pemalu menjadi pemalu sangat.
Jadi, tertawa sendiri baca tulisan Rahma haha. Udah mahasiswa masih aja cara nulisnya amburadul gitu. Tapi Rahma kagum banget sama dosen pembimbing Rahma ini, beliau sangat bagus cara ngajarnya, ilmu matematikanya TOP - lah, dan ternyata dari segi penguasaan bahasa beliau juga keren! >.<
Selain itu, beliau juga membuka pikiran Rahma bahwa semakin seseorang berintelektual maka gaya bahasa, tutur bicara, topik pembicaraannya pun akan berbeda dari orang kebanyakan. Lebih elegan dan sarat makna.
Banyak tokoh-tokoh yang terkenal tapi cara berbicara mereka masih belum berintelektual sehingga orang-orang di sekitarnya pun tidak memiliki rasa segan atau hormat padanya. Mulut seseorang mencerminkan bagaimana prilakunya, bagaimana ia menghargai orang lain.
Seorang yang memang sejatinya pintar matematika maka cara bicaranya pun akan berbeda dari kebanyakan orang. Pintarnya seseorang matematika akan mengarahkan ia untuk berbicara yang benar, yang jujur, yang valid, bukan suatu yang mengada-ada. Karena Matematika mengajarkan ilmu tentang keteraturan, kedisplinan, kehati-hatian, kebenaran, dan kebertanggungjawaban.
Jika seorang ahli Matematika berbicara maka apa yang ia bicarakan harus bisa ia pertanggungjawabkan, jika tidak ia bukanlah seorang ahli Matematika. Matematika mengajarkan tentang kebenaran, bukan suatu prasangka. Matematika mengajarkan untuk berhati-hati dalam menggunakan kata, kalimat dan pernyataan, jangan sampai apa yang disampaikan berlawanan dengan keadaan yang sebenarnya. Matematika mengajarkan kedisplinan, tidak boleh meninggalkan satu simbol sekecil apapun itu, mau itu pada rumus, satuan, teorema, bahkan definisi. Karena hilang satu titik saja dapat mengacaukan segalanya.
Itulah Matematika... yang menjadikan seorang manusia bisa menjadi manusia seutuhnya, membantu manusia untuk berjalan di jalan taqwa pada Allah SWT. Semua yang diajarkan oleh Matematika itu, adalah prilaku terpuji yang dimiliki Rasulullah SAW.
Jadi, Matematika itu bukan ilmu hitung, bukan pelajaran yang berisikan rumus, bukan mata pelajaran yang menyeramkan.
Alhamdulillah Rahma bisa belajar banyak dari beliau, tapi perjalanan Rahma masih panjang untuk perjuangan skripsi ini. Doakan ya teman-teman Rahma bisa segera menyelesaikan amanah ini dengan sebaik-baiknya. Karena Allah yang bisa memampukan Rahma untuk menuntaskan segala ibadah di dunia ini :))
NB : Rajin senyum ya teman-teman, rajin sapa orang lain terlebih dahulu, mau lebih tua ataupun lebih muda :)
Park Bo Gum aja gitu, masa kita umat islam yang sudah diajarkan beratus tahun yang lalu oleh Rasulullah gak bisa mengamalkan.. Hayoo jadi orang yang selalu positive thinking.

waaaaaw
BalasHapusannyeonghaseoo~ dedeee
Hapus