Derasnya hujan tidak
membingungkanku, tidak meragukan telapak kakiku untuk ikut bersamanya.
Merayakan kebebasan, rasa dingin dan tenang ini. Hujan menemaniku, hujan
memelukku, hujan menghapus semuanya. Menghapus rasa penat hidup ini.
Diantara sela-sela kesenangan ini
dengan hujan, saat itulah ia datang. Tanpa basa basi, membuat degup jantung ini
lebih cepat. Hujan menjadi tak berarti lagi, ada kehangatan menjalar ketika ia
datang bersama payungnya.
Ia meneduhiku, menatapku dan itu
membuat mataku terpukau tak bisa berkedip. Hingga aku menyadari kalau apa yang
kursakan ini adalah salah. Ya, ini adalah sesuatu yang salah. Bahkan petirpun
bisa menghukumku, karena mengkhianati hujan.
“Kenapa hujan-hujan an?”, tanya si
dia. Aku masih diam. Tak menjawab. Bibir ini beku, serasa dilem.
“Kedinginan ya? Pegang ini
bentar”, ia menjulurkan pegangan payung padaku. Tanpa disadari sensorik serta
motorik otakku bekerja tak disadari. Mereka mematuhi perintah orang ini.
Tiba-tiba ia membuka jaket yang
sedang ia kenakan. Aku hanya diam, menatap jaket itu. Hingga akhirnya ia
mengenakan jaket itu dengan tumpuan kedua bahuku. Perlakuan ini apakah punya
arti? Hanya itu isi kepalaku.
Kemudian ia meraih kembali
pegangan payung dari tanganku, seraya berkata “Ayo, aku antar sampai rumah”,ucapnya
tenang melihat ke depan.
Aku entah mengiyakan atau menolak
apa yang telah ia lakukan ini. Aku seperti robot yang diam mengikuti seluruh
aturan yang ia tetapkan. Dan kami hanya diam, membisu dengan kecemburuan hujan
yang semakin deras.
Sesampainya di depan rumahku, ia
membalikkan pamitan. Dan mulutku masih saja diam, seharusnya kuucapkan terima
kasih. Ia meneruskan perjalanannya, dan aku masih diam memandang punggungnya.
Entah ia punya mata di belakang kepalanya atau apa, ia membalikkan badan dan
berteriak, “Sudah masuk sana, nanti sakit lhoo”, katanya dengan penuh senyuman.
Lagi-lagi, otakku menuruti
perintahnya. Aku masuk ke rumah, dan berlari ke kamarku di lantai 2. Dengan
secepat yang kubisa, pergi ke jendela melihat si dia lagi di jalan. Ternyata ia
sudah pergi.
Degup jantungku kembali meningkat.
Memenuhi segala puncaknya, ini sungguh membuatku linglung. Perasaan apa ini,
kenapa bisa begini?
Ketika kupegang pundak, ternyata
masih ada jaket ia disana. Jelas ini semua bukanlah mimpi. Wajahnya, matanya,
semua ucapannya menjadi bulan-bulanan bagiku. Dari semua itulah rasa ini
berawal.
***
Bulan malam ini bersinar terang,
dari bawah mataku terpukau sangat dengan keajaiban sinarnya. Andai jika ia
didekati masih tetap indah seperti apa yang terpatri di ingatanku. Semua
keindahannya seakan-akan lenyap setelah kulihat dari dekat pada buku
pengetahuan alam. Ia lebih buruk dari apa yang kubayangkan selama ini.
Kisah bulan ini, mengingatkanku
pada si dia. Ia terlihat sangat perhatian hari itu padaku. Dan sayangnya bukan
padaku saja, tapi hampir pada semua wanita yang menjadi incarannya. Aku
termasuk kedalam targetannya, seperti itulah yang kudengar dari temanku.
Tentu saja aku akan langsung
percaya pada temanku itu, sebab ia orang yang paling kupercaya dari dulu.
Karena alasan itulah aku mulai menjauhinya. Tak akan melihatnya disekolah lagi,
menghindarinya seperti penyakit menular. Terlalu jahatkah itu?
Hanya satu peristiwa yang akan
selalu menjadi kenangan bagiku tentang dia, yakni saat ia membuat hujan cemburu
pada kami. Selain itu, semua saat aku bersama dia adalah sebuah masa kelam dan
tak akan kukenang.
***
Setelah kelulusan dari SMP, kami
berpisah. Tak ada kontak lagi, tak ada ketemuan, tak ada rasa rindu sedikitpun.
Aku mengubur seluruh tentang ia. Berharap suatu saat ada pengganti dia di
hatiku yang pernah ia singgahi.
Aku memasuki SMA yang khusus
perempuan, semuanya menjadi terasa lebih baik. Tiada pengganggu lagi antara aku
dan hujan. Kisahku dengan bulan menjadi indah, tak ada kata buruk untuk sang bulan.
Seiring dengan menghilangnya dia dari kehidupanku.
Tiga tahun belajar, hatiku kosong
akan corentan merah jambu. Hanya dipenuhi syair-syair pelajaran, warna warni
kisah persahabatan.
Disaat teman-teman yang lain
berkata kalau ia menyukai seseorang yang sekolah di luar sana, aku kembali
teringat akan ia. Ya Si Dia. Tiba-tiba wajahnya hadir begitu saja di otakku.
Suara ia yang dengan mudahnya mengontrol kerja otakku. Jaketnya, yang masih
kusimpan. Tak berani diriku untuk mengembalikannya, dan ia sepertinya juga
sengaja tak meminta kembali.
Bahkan saat teman-teman bercerita
kalau ia punya pacar, sudah pacaran sejak SMP. Itu semua membuatku merasa... ya
bisa dibilang kalau ini adalah perasaan iri. Apakah aku salah menjauhi ia dulu,
apakah seharusnya aku tetap berhubungan dengannya. Apakah aku seharusnya waktu
itu turut terbawa arus menjadi mainannya? Apakah itu semua harus aku lakukan
agar tak menyesal seperti sekarang?
Apalagi setelah menginjak
pertengahan SMA, aku mengetahui seluruh kebenaran cerita tentang dia. Ia
bukanlah seorang playboy yang selama ini menjadi bayanganku. Ia seorang yang
setia malah, kata teman-temannya. Dari dulu ia menyukaiku, tapi saat ada
kesempatan bagi ia mendekatiku justru aku malah menjauh. Semua cerita buruk
tentang ia yang pernah dicritakan oleh temanku dulu hanyalah gossip belaka.
Aku sungguh-sungguh menyesal telah
memperlakukannya dulu seperti itu. Sekarang ia entah dimana aku tak tau.
Bisakah hati kami dipertemukan kembali?
***
Ya, sejak itulah aku mulai
menyukainya kembali. Ia tak pernah luput dari rasa ini. setiap hari berharap ia
akan hadir kembali. Memenuhi rongga rasa di hati yang selama ini kosong.
Dan begitulah sampai aku
menamatkan bangku pendidikan SMA. Hingga aku memutuskan untuk melanjutkan
kuliah di perguruan tinggi negri. Kelanjutan hati tentang ia masih tetap
kujaga, karena entah kenapa ia tak mau berpaling sedikitpun dari hatiku.
Bahkan aku sempat dikatakan bodoh
oleh teman-temanku saat mendengar cerita merah jambuku. Yang menunggu seseorang
tak jelas entah dimana ia sekarang. Apakah sudah menikah, apakah sudah punya
pacar, apakah masih sendiri atau yang lebih mirisnya apakah ia masih hidup?
Dan semua itu terjawab ketika
hendak memasuki kereta api menuju kota tempat kediaman nenek tercinta. Aku
waktu itu hanya sendiri. Hingga mataku tertuju pada seorang lelaki tinggi dan
menawan indra penglihatanku. Raut wajahnya tak berubah, ia tepat duduk
disampingku. Jika kereta ini bisa berbicara, maka ia akan berteriak semua isi
hatiku saat itu.
Ia terlihat tenang, entah menyadari
yang duduk disampingnya adalah aku atau siapa. Aku terus melihat wajahnya,
sempat terlintas di benakku untuk memeluknya. Tapi aku masih waras, dan tau
batasan. Hingga ia akhirnya memalingkan wajahnya dan menatap mataku, pandangan
kami bertemu. Degup jantungku kembali meningkat, sama persis dengan kejadian
saat hujan waktu itu.
Tiba-tiba ia tersenyum, dan
menyebut namaku. Iamasih mengingatku. Aku seperti memenangkan lotre, ini
seperti mimpi. Belum pernah aku merasa senang seperti ini.
Untuk pertama kalinya, aku membuka
suara padanya. Kami saling berbincang, bercerita, apa yang ia lakukan selama
ini dan apa yang kulakukan selama ini.
Ternyata tujuan kota kami adalah
sama. Ia mau ke tempat temannya, katanya. Sedangkan aku ingin ke tempat
nenekku. Sebelum kami berpisah, di stsiun kereta api itu, ia kembali
mengulaskan senyum padaku. Dan berkata, “Saat sudah di rumahmu nanti kembali,
bolehkah aku main ke rumahmu?”. Dan aku jawab dengan anggukan yang berarti
‘iya’.
***
Seminggu berlalu semenjak
peretemuan tak terduga tersebut. Ia berkata inging datang ke rumahku. Sayangnya
sampai hari ini ia belum muncul juga, malangnya lagi aku tak sempat meminta
nomor kontaknya. Sungguh sial!
Bunyi dentinga bel depan rumahku
mengejutkan pikiranku. Dan tahukah kalian siapa yang ada di balik peristiwa
pemencetan bel hari itu? Ya ternyata adalah Si Dia.
Ia datang sendirian, menyapa kedua
orangtuaku yang saat itu sedang duduk santai di ruang tamu. Aku membuatkan air
minum dan kembali dengan nampan ke ruang tamu. Ia tersenyum pada kedua
orangtuaku. Ia bercerita kalau ia sedang mengajukan beasiswa ke luar negri.
Sampai akhirnya, ia melontarkan
sebuah permintaan tak terduga pada bapakku. Aku yang saat itu diam mendengar
seluruh percakapan antara ia dan orangtuaku hanya terpaku dengan setiap kata
yang ia pintakan pada bapakku.
“Bapak, Ibu maksud kedatangan saya
kesini adalah... Ingin meminta izin untuk melepaskan anak bapak dan ibu kepada
saya, maaf jika saya lancang. Ia tak tau apa-apa tentang hal ini, saya berjanji
akan menjaganya dunia akhirat. Kami hanya pernah bertemu 2 kali. Beberapa tahun
lalu dan seminggu yang lalu. Saya memohon izin dari bapak dan ibu, jika saya
bisa mendapat izin tersebut, maka dengan segala hormat saya akan membawa
seluruh keluarga saya untuk melamar secara resmi”, ucapnya tenag dan berwibawa.
Kulihat raut wajah bapak dan ibu,
dan mereka juga melihat raut wajahku. Mereka berkata bahwa semua dikembalikan
lagi kepada aku. Sebab saya sudah dewasa dan bisa menentukan sendiri.
Apa yang harus kulakukan?
Menerimanya kah? Menolaknya kah? Sebuah permintaan yang belum pernah kudapatkan
sebelumnya. Dan ini adalah permintaan yang tidak main-main.
Dengan pandangan yang menunduk,
kutenangkan diriku. Memantapkan hati, menanyakan pada diriku apa yang kuinginkan.
Pertama kuucapkan basmalah,
berharap ini bukanlah sebuah keputusan yang salah.
Kujelaskan, “Kami pernah bertemu
saat SMP dahulu, semenjak itu memang sudah ada rasa. Tapi tak pernah ada
keinginan untuk mengungkapkannya, hingga rasa itu disimpan disini. Dan entah
skenario apa yang saat ini kudapatkan, kami bertemu lagi. Ataukah Tuhan
mengabulkan doa ku selama ini”, aku berhenti sejanak. Kemudian berkata kembali,
“Dengan nama Tuhan, kuputuskan untuk memberikan izin tersebut atas diri ini”.
Kerasukan apa, tak tau aku. Ia berhasil
membuatku menjadi robot yang dulu selalu mematuhi keinginannya, semua
perkataannya.
***
Kira-kira kisah yang seperti
itulah yang kebanyakan diharapkan oleh para wanita. Datang tiba-tiba, menawan
hati para wanita. Dengan gentle nya, sang pangeran melamar dihadapan orangtua
sendiri. Tanpa ada rasa ragu!
Bukanlah pacaran, ikatan
terbelenggu oleh setan yang diharapkan para wanita. Sebenarnya, tidak mudah
bagi kami untuk menolak godaan untuk
pacaran. Menerima perhatian yang lebih dari seorang lelaki adalah sesuatu yang
diinginkan kami para wanita.
Tak ayal, kami sering jatuh pada
jurang zina hati tersebut.
Karena itu, kami butuh penguatan.
Bersama-sama melawan hawa nafsu tersebut. Saya sebagai penulis pun belum
pernahdan bahkan taka akan pernah merasakan pacaran tanpa inkatan yang halal.
Saya juga pernah suka dengan orang lain, lawan jenis. Tapi alhamdulillah nya
saya sering diingatkan orangtua, teman-teman dan agama saya. Kalau ini termasuk
zina.
Bagi teman-teman yang dulunya
pacaran, saya sarankan hentikan lah perbuatan tersebut. Hidup kita itu punya
batasan, antara wanita dan lelaki punya batasan. Dan batasan itulah yang harus
selalu dijaga.
Dan yang sudah berusaha berjuang
untuk tidak melakukan pacaran tersebut, pertahankan. Kita bisa jika selalu bersama-sama.
Saling mengingatkan.
Tidak pacaran bukan berarti kita bebas dari zina, akan tetapi kita tetap harus menjaga hati dan kesucian diri.
Untuk temanku, yang telah membuatku bersedih

Tidak ada komentar:
Posting Komentar